Dari Kandang ke Indomilk Hingga Nestlé, Cerita Nasiki dan Sapi Perahnya

Dari Kandang ke Indomilk Hingga Nestlé, Cerita Nasiki dan Sapi Perahnya

Dinginnya Noborejo dikondisi subuh yang berembun, dan kesibukan beberapa warga ditengah masyarakat Noborejo yang sedang tidur, atau para ibu rumah tangga yang sedang membawa sayuran dan yang sedang masak. Dengan suara hewan di pagi hari yang sedang memakan rumput dan ketela. Sang peternak sapi, Bapak Nasiki melakukan pekerjaannya setiap hari, yaitu memelihara dan memerah susu sapi.

Bapak Nasiki berasal dari Tengaran. Orang tuanya berternak Sapi Bajak (Peranakan Ongole atau PO) untuk keperluan pertanian. Dirinya mengikuti jalan orangtuanya dengan memelihara hewan yang sama yaitu sapi, bedanya, Nasiki lebih memilih untuk memelihara Sapi Perah (Frisia Holstein atau FH).

Menurutnya berternak sapi memiliki banyak keuntungan. Biasanya sapi FH akan dewasa di umur dua tahun, bisa lebih cepat jika sehat. Sapi betina bisa diperah setiap hari, bahkan untuk sapi yang sedang hamil. Selain diperah, sapi FH juga dapat dijual dengan harga yang lumayan tinggi. Sapi betina dapat dijual seharga Rp 10.000.000 untuk yang siap bunting, dan Rp. 2.500.000/ekor untuk yang masih kecil. Sementara sapi jantan dapat dijual seharga Rp 10.000.000 untuk yang masih kecil dan bisa lebih dari Rp 30.000.000 untuk sapi dewasa (umur dua tahun). 

Pak Nasiki ketika menjelaskan tentang produk susu sapi segar milik Kelompok Tani Hikmah di kediamannya, Dusun Pamot, 22 Oktober 2019. (Dok. KKN UKSW 2019).

Bapak Nasiki bukan hanya seorang peternak sapi biasa. Selain menjadi peternak sapi, nyatanya Pak Nasiki juga mengabdikan dirinya kepada masyarakat. Ia pernah dipercaya untuk memimpin daerahnya sebagai RT, menjadi inisiator pembentuk Kelompok KB Priyo Utomo, serta menjadi Ketua Kelompok Tani (Poktan) Hikmah sejak 2012. Poktan Hikmah didirikan di Noborejo sejak tahun 1983. Beruntungnya, Poktan ini mendapat alokasi APBN pada saat Nasiki menjadi ketua. “Dana yang dikasih itu saya belikan 6 sapi betina bunting, pemotong rumput, membuat pelatihan kelompok, untuk pemeliharan kesehatan dan reproduksi sapi, serta membelikan bahan makanan konsentrat untuk semua anggota poktan,” ujar Nasiki sambil tersenyum.

Poktan Hikmah memiliki 33 orang anggota, dengan jumlah kepemilikan 60 ekor sapi (53 betina dan 7 jantan). Dalam satu hari dua sapi milik Pak Nasiki dapat menghasilkan susu sebanyak 15-20 liter, jika digabung dengan anggota yang lain, bisa mencapai ratusan liter.

Bapak Nasiki sudah memelihara sapi sejak SD atau sekitar 61 tahun yang lalu. Hingga sekarang keseharian Nasiki masih sama, diawali dengan Sholat di pagi hari untuk mensyukuri kehidupan yang ia milik dilanjutkan dengan mempersiapkan diri untuk mulai bekerja di kandang. Dalam sehari biasanya Nasiki membersihkan kandang dari kotoran untuk dijadikan pupuk dan biogas, memberikan pakan dengan makanan konsentrat maupun rumput yang diberikan tiga kali sehari, membersihkan putting sapi dengan air hingga akhirnya memerah susu sapi yang dilakukan dua hari sekali.   

Pak Nasiki ketika bersiap membersihkan dan memerah susu sapi di kandang rumahnya, 22 Oktober 2019. (Dok. KKN UKSW 2019).

Susu hasil perahan itu akhirnya akan berada dalam milk tank untuk dijual ke Koperasi Unit Desa (KUD) Noborejo sebelum nantinya dikirim ke perusahaan susu sekelas Nestle dan Indomilk. “Harga susu sapi saya itu Rp.4500/liter untuk KUD, tapi jika ada yang mau beli secara langsung ke saya, saya jual Rp. 6000/liter, karena masih segar dan baru di perah. Susu disini itu susu yg berkualitas, karena  Nestlé dan Indomilk adalah pabrik yang membeli susu kami dari KUD Noborejo dan dari pemerintah sendiri sering melakukan pengecekan kualitas susu disini dan hasilnya ya bagus dan sehat!” ujar Pak Nasiki dengan bangga.

Setelah mendengar itu, kami sempat bergurau dengan Bapak Nasiki. Gurauan itu bermuara pada pertanyaan soal apa bedanya susu sapi produksi Poktan ini dengan yang lainnya. Ia tertawa dan menjawab “Orang itu lain semua, kenapa susu saya baik, dan kenapa susu mereka baik? Yaitu karena kamu merawat sapi yang kamu punya dan saya merawat sapi saya dengan baik dengan harapan produksi dan kualitas susu sapi saya meningkat terus menerus. Sehingga ya sapi milik saya menghasilkan susu yang bagus dan dari dinas sendiri sudah sering melakukan cek sample kesini dan hasilnya juga bagus.” Jawabnya. Nasiki mengaku bahwa yang memotivasinya untuk terus berusaha memproduksi susu yang baik adalah demi kesejahteraan keluarganya.

Feature ini ditulis oleh Theo Jasper Fustin, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM) Angkatan 2016 Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) saat melaksanakan Praktik Lapangan Terpadu (PLT) atau Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kelurahan Noborejo.

noborejo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *