Parmono dan Suparjo, Buat Furnitur Dari Kayu Asli Noborejo

Parmono dan Suparjo, Buat Furnitur Dari Kayu Asli Noborejo

Melanjutkan usaha sang kakek, dua orang warga asal Dusun Pamot, RW 1/RT 2 – Noborejo, sepakat mengembangkan usaha furnitur milik keluarganya secara turun-temurun. Sejak 2008, Pak Parmono dan Pak Suparjo bekerjasama melanggengkan usaha furnitur “Agung Letari”. Beruntung, karena ajaran kakeknya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang mahir dalam urusan perkayuan.

Kedua bapak ini tidak ingin berharap lebih, seperti bisa menciptakan furnitur  yang mewah-mewah, cukup dengan keahlian yang bisa mereka lakukan dan bisa mencukupi kehidupan keluarga. Itu saja sudah cukup untuk menjadikan hidup mereka bahagia. Pintu, jendela, kusen hingga kursi-kursi untuk keperluan rumah yang baru, pasti bisa disiapkan oleh mereka. Memang terlihat sederhana tapi perabotan adalah kebutuhan penting untuk melengkapi seisi rumah.

Fleksibilitas tak perlu dipertanyakan lagi, semua bisa diatur dan bisa dibicarakan. Bagian bahan baku contohnya, konsumen bisa memesan kayu sesuai keinginan dan budget yang ada. Jika ingin membawa bahan baku sendiripun bisa.

Parmono saat menjelaskan tentang usaha Furnitur di kediamannya, Dusun Pamot, 22 Oktober 2019. (Dok. KKN UKSW 2019)

Sedikit cerita usaha mereka ini dikenal dari mulut ke mulut. Pak Parmono dan Pak Suparjo sebelumnya pernah bekerja dengan orang lain selama 10 tahun. Namun, keinginan kuat untuk menjadi mandiri membuat kedua kakak-beradik ini sepakat untuk berhenti dan membuat usaha mereka sendiri.  Setelah merasa memerlukan bantuan dari orang lain, mereka pun sempat menyewa pekerja lain. Namun sayang, pekerjaan yang dihasilkan tidak sesuai dengan keinginan mereka. “Sebenarnya kesusahannya itu kalo pesanananya banyak mas, apalagi kami cuman dua orang, pernah kami membayar orang buat bantu, tapi hasilnya gak cocok dan gak sesuai dengan yang kami harapkan” ujar Pak Parmono.

Bermodal kepercayaan dan keinginan mempertahankan kualitas produk, usaha furnitur Agung Lestari mampu mendatangkan pelanggan dari Salatiga hingga dari luar kota., Kayu Surian yang dihasilkan dari tanah daerah tempat mereka tinggal, menjadikan usaha ini bisa dibilang tidak pernah sepi pelanggan. Sering juga Kayu Jati dari daerah Dadapayam, Kabupaten Semarang menjadi sumber bahan baku untuk menyesuaikan permintaan pelanggan.

Artikel ini ditulis oleh George Asela, Timothy Silaya dan Wibi Kridho, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (fiskom) Angkatan 2016 Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) selagi menjalankan Praktik Lapangan Terpadu (PLT) atau Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kelurahan Noborejo.

noborejo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *