Watu Belang : syirik atau ketidak tahuan ?

Watu Belang : syirik atau ketidak tahuan ?

Konon, di wilayah yang bernama Watubelang (kini ikut dalam wilayah Pamot) dulunya adalah sebuah pemukiman padat penduduk. Masyarakatnya bekerja dengan cara mengolah tanah. Akan tetapi karena terkena pageblug penduduk yang jumlahnya sudah ratusan keluarga itu musnah, dan meninggal semua. Oleh karena itu di kompleks pemakaman Watu Belang terdapat ban-yak kuburan yang tidak diketahui siapa namanya dan kapan meninggalnya. Keadaannya cukup memprihatinkan karena banyak batu nisan yang tertutup rumput tinggi dan alang-alang. Bahkan orang Watu Belang yang bertempat se-karang tidak pernah tahu siapa yang ada di dalam kuburan-kuburan itu. Tidak ada yang dapat memberi keterangan dengan jelas. Alkisah dulu ada seorang pengembara yang meminta minum kepada warga sekitar, ketika telah diberi air minum dan meminumnya orang tersebut tiba-tiba menghilang saat ber-jalan menuju ke arah Watu Belang.

Nama Watu Belang ternyata merupakan nama kuno yang tetap dipertah-ankan hingga saat ini. Bahkan bisa dibilang lebih tua daripada keberadaan Noborejo sendiri. Hanya saja karena keberadaannya tidak mencakup wilayah luas, terlebih dengan permasalahan pageblug yang menimpa. Watu Belang bermaniefestasi menjadi sebuah mitos yang penuh tanda tanya tanpa run-tutan penelusuran yang bisa dijajaki. Penyebutan wilayah dengan nama Watu Belang didasarkan pada adanya sebuah batu.

Batu itu menurut orang-orang tua merupakan batu kembar. Kem-barannya berada di wilayah Surakarta. Watu Belang tergolong batu andesit yang terdapat guratan menyerupai tapak kaki dan dipercaya tapak kaki milik Werkudara. Konon jika diangkat, pada permukaan batu juga terdapat tulisan yang beraksara Jawa Kuna. Sehingga kalau dengan ciri yang demikian bisa jadi Watu Belang adalah sebuah prasasti penting.

Dulu Watu Belang sering dikunjungi oleh orang-orang kraton Surakar-ta. Berpuluh-puluh jumlahnya, meski berada di tanah pribadi seorang warga pendatang dari kraton Surakarta malah bersikap seenaknya. Tiap batas tanah yang telah dipacul, dirusak terus menerus. Belum lagi di Watu Belang yang juga menurut kabar ditunggu oleh seekor musang putih.

Watu Belang kerap menjadi tempat berkeluh kesah perihal perekono-mian, togel. Menurut mbah Wongsodimedjo (alm), Watu Belang memang memiliki dimensi mistis yang cukup dapat mengerek derajat seseorang dari
yang awalnya berada di bawah menjadi di atas. Tentu dengan syarat-syarat sekaligus cok bakal sebagai sarana perwujudan doa yang ditujukan kepada Tu-han berperantara Watu Belang. Bisa jadi Tuhan, bisa jadi Tuhan yang lain.

Pemilik tanah sekaligus juru kunci, almarhum mbah Cendol merasa jengkel sekaligus resah. Aktifitas yang mengganggu ketentraman tersebut diadukan kepada pak RT, RW dan sesepuh desa. Setelah berdisuksi lantas mendapat mufakat, maka diputuskan sebuah upaya penutupan Watu Belang. Harapannya tidak akan lagi orang-orang Surakarta yang mengganggu serta tidak ada lagi praktek-praktek klenik yang menjurus pada kemusyrikan yang dilakukan oleh masyarakat. Kini Watu Belang hanya terlihat permukaannya saja. Di samping-sampingnya telah dipendam tanah.

(dicuplik dari buku Maca Noborejo, UGM)

noborejo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *