Noborejo Bangga! Batik Asli Daerah Melanglang Buana Hingga ke Perancis

Noborejo Bangga! Batik Asli Daerah Melanglang Buana Hingga ke Perancis

Wanita paruh baya yang kami temui siang itu, tengah asik membuat sketsa motif pada lembaran kain putih. Selain motif bunga melati dan motif dokar yang pernah ia kerjakan, kali ini motif setengah batok kelapa berwarna coklat dengan hiasan daun ocen-ocen khas Noborejo kebanggannya, yang tengah ia selesaikan. Selepas sketsa motif batok bolu selesai, tangan lihainya perlahan menorehkan malam panas pada motif yang ia buat, sambil meniup hasil cantingannya agar lekas kering. Esok harinya barulah proses pewarnaannya dimulai dengan memakan waktu dua sampai lima hari sebelum akhirnya memasuki tahap penguncian warna.

Sri Mulyani saat membuat batik “Sri Batok Bolu” di kediaman sekaligus butiknya, Jl. Merbabu RT 4/RW 6 Nobowetan, 23 Oktober 2019. (Dok. KKN UKSW 2019).

Ia adalah Sri Mulyani (43), wanita pembatik sekaligus pencetus batik Sri Batok Bolu. Setelah melalui serangkaian ritual untuk membaca buku sejarah Noborejo, dirinya tertarik dengan kata Batok Bolu. Batok berarti tempurung kelapa yang memiliki makna sebagai tempat atau wadah pemersatu.

Beberapa desain Yani, demikian biasanya ia dipanggil, kerap menggunakan motif batok yang dikolaborasikan dengan motif-motif lainnya, seperti bunga melati, burung, daun ocen-ocen, tokoh wayang dan delman. Sedangkan Bolu merupakan akronim dari NoboTelu yaitu Nobokulon, Nobotengah dan Nobowetan. Sedangkan Sri sendiri merupakan nama depan dari sang pemilik. Hal inilah yang akhirnya membuat Yani, menamai brand-nya dengan “Sri Batok Bolu”. Yani merintis karirnya dari tahun 2018. Berawal dari rasa keingintahuan terhadap batik, Ia berusaha untuk berlatih bersama temannya sehingga terciptalah batik dari Noborejo ini. Ada  satu karyawan tetap dan tiga orang yang fleksibel saat membantu proses pembuatan produk batik ini.

Motif batik Batok Bolu khas Noborejo yaitu perpaduan antara batok kelapa dan bunga. (Dok. KKN UKSW 2019).

Usia batik ini memang masih muda, namun siapa sangka salah satu kain desain batik Yani sudah melanglang-buana sampai ke Paris, Perancis. Selain membuka butik di Jl. Merbabu, Nobowetan RT 04/RW 06 KelurahanNoborejo, yang beroperasi dari pukul 08.00 sampai 21.00, strategi pemasaran melalui media sosial merupakan cara paling efektif pada era saat ini. Nama akun Sri Batok Bolu dapat ditemukan lewat Facebook dan Instagram sehingga bisa menjangkau konsumen. Batik dengan usia belum genap dua tahun ini, sudah menjangkau  berbagai kota di Indonesia. Riau, Jakarta, Bandung dan Bali, yang merupakan kota dimana batik ini telah dipamerkan dan dipasarkan.

Pada saat Yani pergi ke suatu acara fashion show di Riau, dari sekian banyak pembatik yang ikut meramaikan acara fashion show, hanya stan Yani lah yang dilirik oleh desainer dari Paris. Sebelum acara fashion show berakhir, batik batok bolu yang mewakili Kota Salatiga tersebut, mennjadi buah tangan dan dibawa ke Paris. Ditempat kelahirannya, apersiasi tertinggi datang dari kelurahan Noborejo yang menggunakan batik ini sebagai seragam dinas kelurahan Noborejo.

Tak perlu merogoh kocek banyak-banyak cukup dengan Rp 130.000  hingga Rp 250.000, konsumen sudah bisa membawa pulang batik cap. Sedangkan, dengan mengeluarkan uang Rp  300.000 hingga Rp 500.000, konsumen dapat membawa pulang batik tulis. “Saya sih berharap, batik batok bolu ini bisa membawa nama Noborejo dikenal masyarakat luas dan saya bertujuan untuk membangun lapangan kerja,” ujarnya sambil mewarnai kain.

Feature ini ditulis oleh Elisabeth Wilhelmina dan Indaryoko, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM) Angkatan 2016 Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) pada saat menjalani Praktik Lapangan Terpadu (PLT) atau Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kelurahan Noborejo.

noborejo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *