DARI DESA SAMPAI KE CINA, KERIPIK PISANG DUA BURUNG BERTAHAN 20 TAHUN!

DARI DESA SAMPAI KE CINA, KERIPIK PISANG DUA BURUNG BERTAHAN 20 TAHUN!

Coba bayangkan deh, minum kopi atau teh panas ditemani dengan keripik pisang, pasti enak banget tuh. Nah, di Noborejo ada Keripik Pisang yang enaknya gak kebayang deh. Keripik Pisang Dua Burung namanya. Pemiliknya adalah Pak Purwanto dan Isterinya, Ibu Purwanti. Sejak muda, Pak Purwanto memang sudah menjalani bisnis keripik pisangnya di Kelurahan Noborejo, Kota Salatiga, tepatnya di Dusun Brajan, RW 4/RT 1. Bersama istrinya, Ia mengembangkan usahanya dengan merek “Keripik Pisang Dua Burung”, nama itu dipilihnya karena ia gemar memelihara burung.

Keripik Pisang Dua Burung pernah menjalin kerjasama dengan Keripik Pisang Sinyo, yang dipasarkan hingga menembus pasar internasional sampai ke Beijing, Cina.

Selama 20 tahun lebih Keripik Pisang ini telah berdiri dan sudah menjadi distributor tetap di beberapa kota, seperti Solo, Klaten, dan Jogja yang selalu memesan Keripik Pisang pada Pak Purwanto. Di Salatiga, Pak Purwanto dan beberapa salesman yang Ia percayai, bertugas untuk mengedarkan Keripik Pisang ke warung-warung kecil yang sudah menjadi langganan tetap. “Saya juga turun langsung mengantarkan keripik ke Salatiga, ke warung-warung kecil,” kata Pak Purwanto.

Omset yang dihasilkan Pak Purwanto dalam seminggu mencapai Rp 1.500.000. Pak Purwanto beserta istri dan dua karyawannya, memproduksi dua bentuk kemasan. Kemasan kecil yang beratnya 125 gram dijual dengan harga Rp.4.500, sedangkan kemasan besar yang beratnya 400 gram dijual dengan harga Rp.12.000. Dalam sehari usaha ini mampu memproduksi hingga50 kilogram Keripik Pisang.

Ibu Purwanti saat membungkus Keripik Pisang “Dua Burung” di kediamannya, Dusun Brajan, 22 Oktober 2019. (Dok. KKN UKSW 2019).

Hingga kini, Pak Purwanto masih menggunakan alat masak tradisional seperti tungku kayu dan memanfaatkan serbuk kayu serta kayu sebagai bahan bakar. Dalam proses produksinya, Pak Purwanto seringkali kesulitan mendapatkan bahan baku utamanya. Biasanya ia harus membelinya dari luar kota seperti Bandungan, Bringin dan Batang.

Rasa yang khas dari alat masak tradisional menjadikan keripik pisang ini terus bertahan di masyarakat. Dengan pengalaman yang cukup lama di bidang usaha pisang, Pak Purwanto lalu berinovasi membuat brown stick (menyerupai cheese stick) dan sudah mencoba untuk memasarkannya.  

Sejauh ini untuk promosi, Pak Purwanto mengandalkan akun pribadi media sosial Facebook milik adik iparnya. Keripik pisang yang dibuat tanpa tambahan bahan pengawet ini, cocok sekali dijadikan buah tangan khas Salatiga, selain karena rasanya yang enak, keripik pisang ini juga dapat bertahan lama. Silahkan kunjungi Noborejo dan biarkan Keripik Pisang Dua Burung terbang ke daerahmu!.

Artikel ini ditulis oleh Agung Christian Rompas & Agus Camillio Giovany Latupeirissa, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM) Angkatan 2016 Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) saat menjalani Praktik Lapangan Terpadu (PLT) atau Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kelurahan Noborejo.

noborejo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *