Manfaatkan Potensi, Warga Asli Noborejo Sukses Bikin Usaha!

Aroma menggoda dari sebuah rumah yang terletak di daerah Watu Belang, Dusun Brajan RT03/RW02 Noborejo, membuat kami singgah ke tempat itu. Rupanya disinilah tempat tahu berisikan campuran tepung dan daging sapi yang dibentuk memanjang itu dibuat. Namanya Tahu Bakso Asy Syifa, yang konsisten berdiri sejak 2016. Demi menjaga kualitas, pemilik usaha tahu bakso Asy Syifa, Ibu Suyami, mengambil bahan dasar dari kota tahu asli yaitu Ungaran.
Daging yang lembut dan rasa bumbu yang kaya di mulut, menjadi ciri khas dari tahu bakso ini, yang selalu laris manis terjual. Seiring berjalannya waktu, usaha kecil yang didirikan Ibu Suyami ini, telah memiliki empat anggota yang siap membantu Ibu Suyami dalam mengolah tahu bakso Asy Syifa.
“Dalam hati kecil saya pengen sekali membantu orang – orang sekitar untuk bisa bekerja dan sedikit membantu perekonomian keluarga. Sebenarnya disini itu banyak potensi, tapi sumber daya manusianya yang kurang memanfaatkan,” ungkap Ibu Suyami saat diwawancarai di kediamannya Selasa lalu (22/10).

“Saya sangat welcome kalo ada orang – orang yang datang untuk belajar gimana buat tahu bakso itu, atau membuat olahan yang lain. Itung – itung bisa membantu orang – orang yang memang mau usaha juga,” imbuh Ibu Suyami. Ibu Suyami adalah sosok orang yang tidak pelit ilmu, bahkan tidak takut resepnya dicuri orang lain. Hal inilah yang membuat kami kagum dengan sosok Ibu Suyami.
Ibu Suyami mengaku dua tahun terakhir ini produksinya mengalami kenaikan, hampir setiap hari tahu bakso Asy Syifa diproduksi hingga 1500 – 1650 buah. Berkat promosi dari mulut ke mulut, tahu bakso Asy Syifa sudah merambah ke kota Solo, Semarang, Boyolali, dan Salatiga. Bagi yang ingin membeli, cukup merogoh kocek Rp 28.000 untuk membeli secara grosir dan Rp 35.000 untuk satu bungkusnya. Satu bungkusnya berisi 10 buah tahu bakso.
Tidak hanya Tahu bakso Asy Syifa yang diproduksi oleh Ibu Suyami, beliau dan anak laki – laki pertamanya, Anggit Waskita, juga memanfaatkan potensi yang ada di Noborejo sebagai peluang usaha, yaitu singkong. Produk makanan ini dinamakan “Singkong Merekah”.

Singkong Merekah adalah singkong goreng dengan rasa yang lembut dan membuat orang yang mecicipinya merasa ketagihan. Singkong Merekah juga sudah berdiri sejak 3 tahun yang lalu. Setiap harinya, Anggit dapat memproduksi singkong Merekah sebanyak 50 kilo sampai 100 kilo, tergantung pesanan yang diterima. Selain itu, Ibu Suyami juga membuat inovasi baru dengan bahan baku yang sama, yaitu kroket singkong, tape krispi, timus ubi ungu, dan juga lemper krispi yang berisikan abon ayam. Semua produk tersebut dibandrol dengan harga Rp 8.000 – Rp 10.000 per bungkus. Semua jenis makanan ini dikemas dalam bentuk beku atau frozen, yang bisa digoreng dirumah sendiri.
Usaha yang sudah digeluti selama 3 tahun ini, memiliki keuntungan yang sangat fantastis. Tahu bakso Asy Asyifa dapat meraih omset kotor kira kira Rp 67 juta per bulan sedangkan, Singkong Merekah yang dikelola Anggit Waskita dapat meraih omset hingga Rp 25 juta per bulan. Omset itu berlaku saat hari biasa,jika liburan tiba omset tahu bakso dan singkong dapat mengalamai kenaikan.
Singkong Merekah sudah dipasarkan di berbagai kota, seperti Semarang, Boyolali dan Salatiga. Dengan adanya usaha kecil ini, ibu Suyami berharap dapat memanfaatkan segala potensi yang ada di Noborejo dan dapat membantu meningkatkan perekonomian keluarga.
Feature ini ditulis oleh Ferdiyan Wahyu Trimurningsih & Gracia Puspasari, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM) Angkatan 2016 Universitas Kristen Satya Wacana(UKSW) saat menjalankan Praktik Lapangan Terpadu (PLT) atau Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kelurahan Noborejo.





